Hmm, sebenernya artikel ini harusnya saya posting dari dulu. Berhubung baru teringat skr, ya okelah, skr coba saya post.
Tepat setelah UAS FEUI semester genap kemarin (sekitar bukan juni), esoknya saya dan kawan saya meluncur ke Semarang untuk menghadiri sebuah acara presentasi dan seminar. Dalam acara presentasi hadir 3 orang pakar, yakni pakar ekonometrika, pakar pertanian dari Badan Ketahanan Pangan Nasional, serta pakar sistematika katul.
Ketika tiba saatnya saya dan kawan saya mempresentasikan buah karya kami, kami begitu bersemangat, meskipun kami merupakan penyaji terakhir kedua sebelum kawan2 dari UGM. Ini bukan karena kesombongan kami karena merupakan satu2nya penyaji yang terbalut almamater kuning, namun lebih karena murni niat kami berdua menyajikan tema yang orisinil dan kami rasa sangat solutif dalam permasalahan pertanian Indonesia.
Hal yang paling kami tunggu kami harapkan akan datang 15 menit setelah penyajian, yakni sesi komentar dewan juri. Secara pribadi saya sangat menantikan feed back dari pakar BKPN sebagai perencana kebijakan2 pertanian Indonesia. Namun tiba saatnya kami mendapati komentar dewan juri, hanya kekecewaan dan rasa tak puas yang kami dapatkan. Bukan masalah tak begitu tertariknya dewan juri akan topik kami, tapi lebih ke masalah kualitas kritik dan opini pakar2 tersebut. Ini kami yakini setelah membandingkan perolehan nilai masing2 penyaji, kami mendapati ketakseimbangan antara nilai dan komentar juri. Setelah kami analisa ulang dan flash back seluruh kejadian nya, kami mendapati bahwa hanya tim kami yang memperoleh kritik yang "irit". Awalnya kami dilemma antara apakah ini karena topik kami yang tidak solutif atau karena juri yang tidak menguasai topik kami (FYI: Topik yang saya sajikan bisa dikatakan masih baru, dan Indonesia dapat dikatakan masih prematur dalam konsep dan teknisnya). Beruntung akhinrnya saya dan kawan saya mendapat feedback yang lebih memuaskan setelah berdiskusi panjang lebar dengan rekan2 UNAIR. Dan dari hasil analisa mereka, terjawablah bahwa dalam hal ini dewan juri lah yang kurang capable dalam menanggapi topik para penyaji, utamanya dalam kasus kami, karena seperti yang saya jelaskan sebelumnya bahwa topik yang saya sajikan masih agak asing di telinga warga Indonesia.
Satu hal lagi yang paling memompa darah tim saya adalah adanya komentar dari salah satu pakar, seperti yang saya kutip berikut : "pertama, saya apresiasi kalian yang berada di pusat, masih memikirkan topik2 yang seperti ini".. Respon yang spontan keluar dari mulut saya hanyalah "Shiit!!!".. Sungguh sindiran yang halus... 1 pertanyaan yang terus berputar di otak saya adalah apakah sedemikian nya UI hingga komunitas2 di daerah memandang UI layaknya sang opportunis yang berlagak berpihak pada rakyat, namun selalu berada di pihak pembuat kebijakan yang tidak populis?!! Sungguh menyakitkan mendapati kaum2 di daerah memiliki pandangan sesempit ini. Harus saya akui memang civitas academica saya lah yang ikut andil merusak bangsa ini, namun tak dapat dipungkiri bahwa civitas saya juga lah yang juga turut membangun negeri tercinta Indonesia ini.
Rabu, 09 Juli 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar