Rabu, 09 Juli 2008
Shiiittt!!
Tepat setelah UAS FEUI semester genap kemarin (sekitar bukan juni), esoknya saya dan kawan saya meluncur ke Semarang untuk menghadiri sebuah acara presentasi dan seminar. Dalam acara presentasi hadir 3 orang pakar, yakni pakar ekonometrika, pakar pertanian dari Badan Ketahanan Pangan Nasional, serta pakar sistematika katul.
Ketika tiba saatnya saya dan kawan saya mempresentasikan buah karya kami, kami begitu bersemangat, meskipun kami merupakan penyaji terakhir kedua sebelum kawan2 dari UGM. Ini bukan karena kesombongan kami karena merupakan satu2nya penyaji yang terbalut almamater kuning, namun lebih karena murni niat kami berdua menyajikan tema yang orisinil dan kami rasa sangat solutif dalam permasalahan pertanian Indonesia.
Hal yang paling kami tunggu kami harapkan akan datang 15 menit setelah penyajian, yakni sesi komentar dewan juri. Secara pribadi saya sangat menantikan feed back dari pakar BKPN sebagai perencana kebijakan2 pertanian Indonesia. Namun tiba saatnya kami mendapati komentar dewan juri, hanya kekecewaan dan rasa tak puas yang kami dapatkan. Bukan masalah tak begitu tertariknya dewan juri akan topik kami, tapi lebih ke masalah kualitas kritik dan opini pakar2 tersebut. Ini kami yakini setelah membandingkan perolehan nilai masing2 penyaji, kami mendapati ketakseimbangan antara nilai dan komentar juri. Setelah kami analisa ulang dan flash back seluruh kejadian nya, kami mendapati bahwa hanya tim kami yang memperoleh kritik yang "irit". Awalnya kami dilemma antara apakah ini karena topik kami yang tidak solutif atau karena juri yang tidak menguasai topik kami (FYI: Topik yang saya sajikan bisa dikatakan masih baru, dan Indonesia dapat dikatakan masih prematur dalam konsep dan teknisnya). Beruntung akhinrnya saya dan kawan saya mendapat feedback yang lebih memuaskan setelah berdiskusi panjang lebar dengan rekan2 UNAIR. Dan dari hasil analisa mereka, terjawablah bahwa dalam hal ini dewan juri lah yang kurang capable dalam menanggapi topik para penyaji, utamanya dalam kasus kami, karena seperti yang saya jelaskan sebelumnya bahwa topik yang saya sajikan masih agak asing di telinga warga Indonesia.
Satu hal lagi yang paling memompa darah tim saya adalah adanya komentar dari salah satu pakar, seperti yang saya kutip berikut : "pertama, saya apresiasi kalian yang berada di pusat, masih memikirkan topik2 yang seperti ini".. Respon yang spontan keluar dari mulut saya hanyalah "Shiit!!!".. Sungguh sindiran yang halus... 1 pertanyaan yang terus berputar di otak saya adalah apakah sedemikian nya UI hingga komunitas2 di daerah memandang UI layaknya sang opportunis yang berlagak berpihak pada rakyat, namun selalu berada di pihak pembuat kebijakan yang tidak populis?!! Sungguh menyakitkan mendapati kaum2 di daerah memiliki pandangan sesempit ini. Harus saya akui memang civitas academica saya lah yang ikut andil merusak bangsa ini, namun tak dapat dipungkiri bahwa civitas saya juga lah yang juga turut membangun negeri tercinta Indonesia ini.
Selasa, 01 Juli 2008
Popularitas Mengungguli Kapasitas
Gong Pemilu telah berakhir 19 Maret 2008. Ini menandakan berakhirnya semua tugas yang diemban baik panitia, dan usaha calon eksekutif FE yang terpaksa tereliminasi dalam penentuan suara Rabu silam. Sekaligus disahkannya Prasetyo Adi sebagai Ketua Senat dan Pengurus Badan Perwakilan Mahasiswa periode 2008.
Di lain pihak, tim dari Kiki harus menanggung kekecewaan yang mendalam. Selain karena persiapan yang telah dipersiapkan matang jauh-jauh hari, namun juga lebih karena visi dan misi2 strategis yang telah digodok dan dipersiapkan secara terperinci harus terlalui
Terlepas dari apapun yang terjadi dengan kedua pihak, sebagai orang awam atau pemerhati politik kampus, masih adakah yang resah terhadap kemajuan FE ke depannya bersama KSM terpilih???
Sebuah pertanyaan intuitif ini tiba-tiba muncul. Boleh dikatakan mulai ada perubahan pola pikir warga FE mulai beberapa periode kepengurusan Senat yang lalu hingga saat ini. Pola pikir warga FE di beberapa periode silam tampaknya lebih lekat dengan suasana politis, dominansi ’kelompok’, dan lebih kritis. Tidak dapat dipersalahkan memang. Namun, hal ini pula yang turut mempengaruhi wawasan dan minat mahasiswa FE akan perpolitikan kampus.
Para pemegang tampuk kekuasaan tinggi di FE periode-periode silam boleh dibilang sangat populer di kalangan mahasiswa, bukan hanya karena mobilitas kegiatan yang membuatnya seperti itu namun juga dikenal dalam segi intelektualitas serta wawasan nya akan pergerakan mahasiswa. Beberapa periode selanjutnya, sosok kepemimpinan tersebut sedikit demi sedikit kian memudar. Pragmatisnya, sosok Ketua Senat itu tidak dibutuhkan figur yang lihai mengandalkan otot saja apalagi skill managerial saja, namun lebih dibutuhkan figur yang mampu berfikir strategis dalam segala hal, dan tentu saja yang terpenting adalah berisi tidaknya pemimpin tersebut. Saya sebut demikian karena pemimpin tersebut lah yang akan membawa nama (entah baik maupun tidak) FE di hadapan eksternal-eksternal kampus FE.
Keresahan ini kian menjadi tatkala menelisik perbedaan selisih suara antara 2 CKSM dalam perhitungan suara 19/3 lalu. Selisih suara yang cukup signifikan tersebut (sekitar 300 suara) harusnya menjadi tanda tanya besar bagi setiap warga FE. Jadi sebenarnya faktor apa yang lebih mengunggulakan satu pihak dan menenggelamkan pihak yang lain dalam pemilu kali ini? Kepopuleran atau keberisian ??
Kita sendiri yang memilih, kita sendiri yang dapat menjawabnya. Dan oleh karenanya kita pulalah yang turut bertanggung jawab atas kemajuan FE ke depannya. Kalaupun kita masih merasa bimbang dan resah akan hal ini, maka sudah sepantasnyalah kita juga turut partisipasi dalam proses perekrutan subordinat-subordinat Pemimipin Badan Eksekutif Mahasiswa kita ke depannya. Fairness sangat diperlukan dalam proses ini. Ini berarti, terlepas dari keterikatan moril seorang calon ketika awal ia akan mencalonkan diri kepada para pendukungnya, pertimbangan awal harusnya lebih pada kapabilitas kandidat tersebut untuk mengisi kursi eksekutif Senat. Keterikatan moril tak perlu dipermasalahkan jika toh syarat tersebut belum terpenuhi. Dan kalaupun masih ada orang diluar sana yang kapable dalam hal ini, kenapa tidak diserahkan ke mekanisme pasar politik FE saja. Dengan demikian, diharapkan akan muncul bibit-bibit unggul yang nantinya akan berkontribusi selama 9 bulan ke depan.
Secara implisit, mata kepala saya telah membuka wawasan saya betapa minimnya wawasan dan antusiasme politik warga FE. Sehingga masih masih sangat dibutuhkan kerja keras dan peran serta semua pihak untuk dapat memback up kepengurusan senat kali ini.
21 Maret 2008 pukul 23.00 WIB
PERLUNYA REFORMASI BIROKRASI DAN REFORMAI STRUKTURAL DALAM APARATUR NEGARA
FYI :
-ada kenaikan 20% anggaran gaji PNS dalam APBN 2008
-2004 gaji PNS : 668.000 untuk golongan 1A (under Regional Minimum Wage)
-2006 gaji PNS : 1.060.000
-2008 gaji PNS : akan dinaikkan dengan gaji terendah 1.500.000
Menurut Taufik Effendi-Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara (PAN) : Jam kerja minimal pegawai dalam seminggu : 37,5 jam
-Banyak pegawai negeri yang berkilah bahwa gaji yang tak seberapa menjadikan mereka melakukan kegiatan lain diluar kepentingan kerja pada saat jam kantor.
Permasalahan :
Apakah kenaikan gaji PNS dapat menjadi injeksi bagi perekonomian atau justru dapat menjadi inefisiensi anggaran APBN?
Di sisi lain pemerintah justru sedikit demi sedikit memangkas anggaran pendidikan hingga tak pernah menyentuh besar anggaran yang direncanakan yakni 20%?
Comment : gaji PNS sudah sebaiknya dibedakan dengan gaji guru—u know why..
So, what do you think about it???
GERAKAN MAHASISWA DIAMBANG KEHANCURAN
July, 1st 2008
Rasanya sudah agak lama saya meninggalkan dunia kritis dan sedikit terkonsentrasi dan disibukkan oleh urusan keluarga saya. Sedikit mundur dari dunia persilatan dan menoleh sedikit ke kepentingan pribadi memang tidak ada salahnya. Tapi tak lama, kerinduan akan mengamati dan menulis tentang berbagai fenomena di negara ini yang meresahkan batin saya, mendorong tangan saya untuk kembali menggerakkan pena saya untuk menulis.
Kabar akhir-akhir ini yang kian meresahkan batin, menggriseni telinga saya adalah mengenai berbagai kerusuhan yang dilakukan mahasiswa dalam kedok demo mahasiswa. Diawali dengan kerusuhan di UNAS, pengrusakan/pembakaran mobil dinas oleh 6 oknum yang masih tercatat dalam DPO, demo kenaikan BBM oleh 35 mahasiswa di depan DPR/MPR, demo mahasiswa UNAS sebagai pembalasan atas kematian rekan2 mereka dalam tragedi UNAS, hingga kerusuhan di Universitas Haluoleo, Kendari. Meskipun nyaris tak pernah turun ke jalan, namun saya tetap sadar akan peran saya sebagai mahasiswa—bagian dari motor penggerak perubahan bangsa ini.
Mengamati berbagai fenomena yang telah saya sebutkan diatas, saya kembali teringat pada pernyataan mantan aktivis KAMMI 1998 dari Jogjakarta pada acara bedah buku ”BULAN SABIT MERAH DI BULAN MEI” yang digelar di FIB. Frontal beliau mengatakan bahwa naif bila ada yang mendikotomikan gerakan politis dan gerakan moral. Alasannya karena menurutnya meskipun awalnya gerakan mahasiswa didorong moralitas, namun ends up nya pasti akan bersentuhan dengan kekuasaan juga. Dulu saya beranggapan bahwa sangat picik sekali orang yang berpikir seperti ini, karena anggapan nya cukup merendahkan mahasiswa, sehingga seolah-olah mahasiswa bergerak karena pamrih. Bukan kepentingan rakyat yang menggerakkan nurani mereka, tapi kekuasaan lah yang menggerakkan tangan dan kaki mereka untuk berjuang atas nama perubahan. Sungguh memalukan!!!!
Namun semakin tua umur bangsa ini, tak makin mendewasakan nya. Perubahan demi perubahan yang diusung para panggede negeri ini saya rasa masih sangat jauh dari tujuan mensejahterakan rakyat. Tak kalah dengan para panggede, pembuat kebijakan, maupun para politisi yang kian hari kian terdominansi opportunisme pribadi maupun golongan, demikian pula yang saya rasa telah terjadi pada gerakan mahasiswa saat ini. Menjelang momentum 10 tahun reformasi kemarin, saya nyaris sangat optimis akan kembali bangkitya gerakan mahasiswa layaknya masa lalu di era reformasi. Romantisme masa lalu memang boleh menjadi pilar penyemangat impian, namun kenyataan tetaplah yang paling menentukan.
Dan demikian halnya dengan kenyataan2 yang saya sebutkan di atas. Semakin saya mengamati berbagai fenomena aksi turun jalan mahasiswa saat ini, agaknya sedikit demi sedikit menggeser pandangan saya tentang makna dan tujuan suci gerakan mahasiswa. Dengan demikian, menurut saya statement dari bung mantan aktivis KAMMI 1998 tersebut memang ada benarnya. Gerakan mahasiswa yang beriring kerusuhan telah berhasil mencoreng muka mahasiswa di depan rakyat yang diperjuangkannya sekalipun. Apa yang diharapkan dari membakar ban mobil dijalanan, merusak mobil dinas pejabat, merobohkan gerbang DPR/MPR, ataupun memblokade jalanan?? Sungguh benar-benar memalukan!! Inilah bukti nyata dimana emosi melebihi kapasitas. Lantas apa bedanya gerakan mahasiswa dengan aksi bentrokan masa, apa bedanya gerakan kaum intelektual dengan gerakan kaum proletar? Dan yang dapat saya katakan saat ini mungkin gerakan mahasiswa diambang kehancuran. Bangsa ini sudah terlalu bobrok untuk dapat ditanggung sendiri oleh elitis negeri ini. Jika mereka yang duduk sebagai pemangku kebijakan itu sudah tak lebih mementingkan urusan perut mereka masing-masng, maka kitalah sebagai mahasiswa yang sepatutnya terus membangunkan mereka yang makin terlarut dalam kelenaan jabatannya.
Namun satu hal yang harus tetap dipengang teguh adalah bahwa sampai kapanpun juga gerakan mahasiswa selayaknya adalah gerakan moral, meskipun tuntutan nya dalam tataran politis. Bila komitmen ini sudah tak lagi bersemayam dalam benak mahasiswa, maka semakin yakinlah kita bahwa gerakan mahasiswa memang benar-benar diambang kehancuran.