Selasa, 01 Juli 2008

Popularitas Mengungguli Kapasitas

Gong Pemilu telah berakhir 19 Maret 2008. Ini menandakan berakhirnya semua tugas yang diemban baik panitia, dan usaha calon eksekutif FE yang terpaksa tereliminasi dalam penentuan suara Rabu silam. Sekaligus disahkannya Prasetyo Adi sebagai Ketua Senat dan Pengurus Badan Perwakilan Mahasiswa periode 2008.

Di lain pihak, tim dari Kiki harus menanggung kekecewaan yang mendalam. Selain karena persiapan yang telah dipersiapkan matang jauh-jauh hari, namun juga lebih karena visi dan misi2 strategis yang telah digodok dan dipersiapkan secara terperinci harus terlalui

Terlepas dari apapun yang terjadi dengan kedua pihak, sebagai orang awam atau pemerhati politik kampus, masih adakah yang resah terhadap kemajuan FE ke depannya bersama KSM terpilih???

Sebuah pertanyaan intuitif ini tiba-tiba muncul. Boleh dikatakan mulai ada perubahan pola pikir warga FE mulai beberapa periode kepengurusan Senat yang lalu hingga saat ini. Pola pikir warga FE di beberapa periode silam tampaknya lebih lekat dengan suasana politis, dominansi ’kelompok’, dan lebih kritis. Tidak dapat dipersalahkan memang. Namun, hal ini pula yang turut mempengaruhi wawasan dan minat mahasiswa FE akan perpolitikan kampus.

Para pemegang tampuk kekuasaan tinggi di FE periode-periode silam boleh dibilang sangat populer di kalangan mahasiswa, bukan hanya karena mobilitas kegiatan yang membuatnya seperti itu namun juga dikenal dalam segi intelektualitas serta wawasan nya akan pergerakan mahasiswa. Beberapa periode selanjutnya, sosok kepemimpinan tersebut sedikit demi sedikit kian memudar. Pragmatisnya, sosok Ketua Senat itu tidak dibutuhkan figur yang lihai mengandalkan otot saja apalagi skill managerial saja, namun lebih dibutuhkan figur yang mampu berfikir strategis dalam segala hal, dan tentu saja yang terpenting adalah berisi tidaknya pemimpin tersebut. Saya sebut demikian karena pemimpin tersebut lah yang akan membawa nama (entah baik maupun tidak) FE di hadapan eksternal-eksternal kampus FE.

Keresahan ini kian menjadi tatkala menelisik perbedaan selisih suara antara 2 CKSM dalam perhitungan suara 19/3 lalu. Selisih suara yang cukup signifikan tersebut (sekitar 300 suara) harusnya menjadi tanda tanya besar bagi setiap warga FE. Jadi sebenarnya faktor apa yang lebih mengunggulakan satu pihak dan menenggelamkan pihak yang lain dalam pemilu kali ini? Kepopuleran atau keberisian ??

Kita sendiri yang memilih, kita sendiri yang dapat menjawabnya. Dan oleh karenanya kita pulalah yang turut bertanggung jawab atas kemajuan FE ke depannya. Kalaupun kita masih merasa bimbang dan resah akan hal ini, maka sudah sepantasnyalah kita juga turut partisipasi dalam proses perekrutan subordinat-subordinat Pemimipin Badan Eksekutif Mahasiswa kita ke depannya. Fairness sangat diperlukan dalam proses ini. Ini berarti, terlepas dari keterikatan moril seorang calon ketika awal ia akan mencalonkan diri kepada para pendukungnya, pertimbangan awal harusnya lebih pada kapabilitas kandidat tersebut untuk mengisi kursi eksekutif Senat. Keterikatan moril tak perlu dipermasalahkan jika toh syarat tersebut belum terpenuhi. Dan kalaupun masih ada orang diluar sana yang kapable dalam hal ini, kenapa tidak diserahkan ke mekanisme pasar politik FE saja. Dengan demikian, diharapkan akan muncul bibit-bibit unggul yang nantinya akan berkontribusi selama 9 bulan ke depan.

Secara implisit, mata kepala saya telah membuka wawasan saya betapa minimnya wawasan dan antusiasme politik warga FE. Sehingga masih masih sangat dibutuhkan kerja keras dan peran serta semua pihak untuk dapat memback up kepengurusan senat kali ini.

21 Maret 2008 pukul 23.00 WIB

Tidak ada komentar: