Kabar hangat yang baru-baru ini muncul di media massa cukup menggelikan. Anton Apriyantono, Menteri Pertanian RI periode ini, sedang terlibat dalam pembuatan film layar lebar berjudul Kasidah Cinta. Konon film ini akan mengangkat cerita tentang seorang tokoh di bidang pertanian yang jatuh cinta pada seorang gadis desa ketika sedang melakukan penyuluhan pertanian di sebuah desa terpencil.
Berita hangat yang dilansir Koran Tempo (28082008) ini mengungkap bahwa menurut sang panggede negeri di bidang cocok tanam ini, adanya film tersebut cukup mengena, selain karena motif tersirat untuk mensosialisasikan signifikansi peran pertanian di negeri ini, tema percintaan yang memang selalu in dikalangan remaja.
Kegandrungan para remaja akan film bertema percintaan seolah memang bukan fenomena baru lagi. Tak ayal demi memenuhi demand pasar, para insan perfilman pun tak segan-segan membuat berbagai ide cerita yang berbau-bau hal tersebut. Mulai dari kisah percintaan orang tua, janda-duda, muda-mudi, sampai kisah percintaan anak sekolah (SMP dan SD) sekalipun telah berhasil diracik tangan2 dingin para sutradara film kawakan negeri ini. Maka, lumrah jika toh sekarang anak2 kecil sudah pandai bersolek, mengikuti trend mode, dan melakukan aktivitas2 yang sewajarnya menjadi santapan orang dewasa. Sebagai contoh, tanyakan pada anak zaman ini, lebih hafal mana mereka menyanyikan lagu2 kebangsaan Indonesia dengan lagu band-band sekelas peterpan, ungu, ada band, dan band-band kawakan lain.
Lucunya lagi, saat ini dunia perfilman tak hanya merangkul entertain2 muda, baru, dan wajah2 segar. Namun para panggede negeri ini juga mulai tertambat mencicipi dunia entertain. Sebelum pembuatan film Kasidah Cinta tersebut, Yusril Ihza Mahendra juga telah menunjukkan eksistensi dirinya di dunia apolitik melalui film CengHo. Perihal ini bagi saya tampaknya cukup menggelikan. Pasca pencabutan jabatannya dari menteri sekretaris negara, seakan tak ingin lepas dari ketenaran, sosok paruh baya ini balik kemudi menjadi artis dadakan. Apa ini yang dimaksud SBY sebagai “peran yang lebih baik bagi negara daripada sekedar menjadi MenSesNeg”? Sungguh ironis jika pernyataan yang diutarakan SBY ketika memutus mandat Yusril sebagai pembantu negara ini memang benar.
Cukup malu rasanya bila saya harus membandingkan dengan negri-negri tetangga. Disaat mereka sibuk memikirkan kemajuan negrinya dengan berbagai keahlian mereka masing2, negeri ini justru makin dilenakan dengan hal2 sepele. Mengapa tak mencurahkan waktu lebih banyak untuk mengurusi permasalahan pertanian yang tak kunjung habis? Sedang disudut negeri sana bergelimang petani-petani Indonesia yang gundah akan nasibnya esok hari,, menanti sebuah kebijakan pemerintah yang berarti.
Bahwa sebuah prestasi telah tercetak dari sektor pertanian memang tak pantas dipandang sebelah mata, yakni tercapainya swasembada beras tahun 2008. Namun, apakah lantas hanya karena ini pemerintah bisa sedikit membekap mulut rakyat dari aksi protes sejenak. TIDAK AKAN! Karena masih banyak permasalahan bangsa menunggu tuk dipecahkan. Dan hanya ini yang dapat saya suarakan, setidaknya sebagai rakyat jelata yang masih peduli akan nasib bangsa ini.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar